Kalau sekarang kantuk tak dapat dibeli, dimana lagi waralaba yang menjual kondensasi berisi pil seukuran kelingking jariku? Ah aku mengantuk, aku ingin bernyanyi tentang kantuk, aku ingin bercinta dengan kantuk, dia tahu kantuk bukan milikku, aku ingin berlayar berpesiar dengan kantuk, aku ingin kantuk belikanku alarm, bel, dari susunan emas bercampur karat, hingga jika dipukul kantuk tak akan hilang dariku.
Hitunglah hingga dua puluh tujuh aku meniup lilin, aku ingin kantuk sebagai kado terindah. Semua yang pernah terkantuk, tersangkut, maupun terangkut oleh kuantitasi atas kuesioner hingga mereka sudah tidak bisa dijabarkan lagi, manusia ataukah sebuah industri yang terdapat atasnya, hasilnya, ucapan, sentuhan di garis-garis besi, pahatan balok kayu maple yang nyaring, mapun badut terkotor yang suka menyapu lantai, oh aku mau mereka mau, menjadi tujuan kantukku.
Tolong jangan ganggu cintaku terhadap kantuk, karena kantuk adalah elixir, obat dari segala obat, tak ingin kubuat ku kelu dan rapuh kalau tak ada kantuk.
Kantuk itu tuhanku, kantuk itu jalanku, aku ingin kantuk di dua tujuh.
Sekarang sudah tak cemas kutanya dan awas kuhindar kalau ku mau kantuk ada untuk kuperas.
Hei kantuk dengarkah dirimu, kalau ada seorang lain tau kantuk tidak mau aku sendiri bersama kantuk, aku hanya ingin kantuk tahu, jika menurutku semua sudah terlambat. Maka semua jaringan merah muda penyambung nafasku telah menjadi abu, pipa merah pucatku telah menjadi radang dalam laparku, gumpalan keringatku telah berbau gandum basi dan membentuk bulir dan kondensasi mematikan jika dicampur balsem pijat. Kalau lah belum terlambat oh kantuk, maka beri aku ganti. Aku tak memakan kantuk, karena kantuk itu cinta. Aku tak mau memakan cinta karena kantuk tau dia bukan teman cinta. Aku ini kantuk, dia bukan dua tujuh.
Saat kantuk menyapa, wahai pemujaku, aku akan berada paling depan laksana kau sebagai seorang patron dalam drama musikal terhebat dan termegah di relung lubang telingaku.
Ciptakanlah konser setiap malam agar aku mengagumimu kantuk.
Kantuk bukan hormon, para pendikte tuhan atas ciptaannya membuatmu terlihat begitu simpel, oh kantuk. Kantuk aku ingin tahu. Apa yang bisa kulakukan agar kantuk mencintaiku?
Aku mau kantuk tahu aku ingin trtunduk mengaduk logika intuisi ku untuk dua delapan.
Aku bukanlah definisi atas pukul 3 malam. Aku bukanlah logika atas 12 siang.
Bukan kantuk kusalahkan.bukan kantuk kuimpikan.
Tarik saja diafragma ku dan bilik kiri jantungku hingga kutemui kantuk disana.
Bangunkan aku di dua tujuh.
Bangunkan aku sebelum lipatan keriput merah ini semakin melegam menghitam tak karuan. Mengemis atas pasangannya yang masih pucat. Uhh, kantuk aku mau.
Selamatkan dari imaji visual tak karuan dan menjijikan seakan semua yang terlihat adalah gambaran selangkangan berjamur yang tak pernah dijemur, hingga muntah dalam perut ku dibuat karena aku mau menyambut kantuk bersih dikamarku.
Mari kantuk jemput aku dalam testimonimu, profilmu, dan segala atasmu.
Hingga tak perlu kau berjalan jauh untuk menemukanku dalam daftar hadiah yang harus diberikan sinterklas ketika natal, maupun tersembunyi di dalam jalinan hijau berisi nasi kepal.
Ayo kantuk ketok pintu.
Dan jemput aku di dua tujuh.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment