jam session II : layar kelamin

Konvensionalitas sebuah perasaan manis hanyalah bualan fiksi pada layar yang semakin tipis.
Ah, aku mau pipis.
Sampai mulut dan muka lacur mereka yang berbalut kawat karet menjadi berbau cuka dan lengket.
Siapa yang mau bertamu kalau mereka tak menyediakan pintu untukku?
Semua rumah telah menyatakan tak ada kamar kosong didalam.
Hanya dapur, dapur, dan dapur.
Memanggang intuisi dan terbujur kaku pada nampan siap saji sang koki.
Voila, koki itu nabi.
Tuhan itu aku.
Dan semua manusia telah menjadi tuhan.
Siapa sanggup menerima kualitas jika kuantitas dianggap dalam satuan koma, dan menjadi kitab suci para penikmat tak bermata juga beriman.
Bukan iri sebagai inti, dan aku mau menjadi bagian dari kalian.
Tapi visi bukan misi yang kalian tawarkan menjadi jijik di seluruh panca indra.
Mari berdusta atas dasar kebaikan yang kalian cap.
Semua individu menjadi abu dalam sebuah senapan berbalut kabel dan mengikat seluruh.
Perbudaklah aku dalam menu kalian.
Ini bukan resto, ini adalah apa yang kalian jajakan.
Pewarna pengawet, rusaklah apa yang mau menjadi baik.
Sungguh kasihan jika vagina dan penis-penis muda disana lebih bisa berorgasme lebih cepat karena kalian.
Ejakulasi dini atas tampilan televisi.

No comments:

Post a Comment