jam session X : a marchin lullaby

Kalau sekarang kantuk tak dapat dibeli, dimana lagi waralaba yang menjual kondensasi berisi pil seukuran kelingking jariku? Ah aku mengantuk, aku ingin bernyanyi tentang kantuk, aku ingin bercinta dengan kantuk, dia tahu kantuk bukan milikku, aku ingin berlayar berpesiar dengan kantuk, aku ingin kantuk belikanku alarm, bel, dari susunan emas bercampur karat, hingga jika dipukul kantuk tak akan hilang dariku.
Hitunglah hingga dua puluh tujuh aku meniup lilin, aku ingin kantuk sebagai kado terindah. Semua yang pernah terkantuk, tersangkut, maupun terangkut oleh kuantitasi atas kuesioner hingga mereka sudah tidak bisa dijabarkan lagi, manusia ataukah sebuah industri yang terdapat atasnya, hasilnya, ucapan, sentuhan di garis-garis besi, pahatan balok kayu maple yang nyaring, mapun badut terkotor yang suka menyapu lantai, oh aku mau mereka mau, menjadi tujuan kantukku.
Tolong jangan ganggu cintaku terhadap kantuk, karena kantuk adalah elixir, obat dari segala obat, tak ingin kubuat ku kelu dan rapuh kalau tak ada kantuk.
Kantuk itu tuhanku, kantuk itu jalanku, aku ingin kantuk di dua tujuh.
Sekarang sudah tak cemas kutanya dan awas kuhindar kalau ku mau kantuk ada untuk kuperas.
Hei kantuk dengarkah dirimu, kalau ada seorang lain tau kantuk tidak mau aku sendiri bersama kantuk, aku hanya ingin kantuk tahu, jika menurutku semua sudah terlambat. Maka semua jaringan merah muda penyambung nafasku telah menjadi abu, pipa merah pucatku telah menjadi radang dalam laparku, gumpalan keringatku telah berbau gandum basi dan membentuk bulir dan kondensasi mematikan jika dicampur balsem pijat. Kalau lah belum terlambat oh kantuk, maka beri aku ganti. Aku tak memakan kantuk, karena kantuk itu cinta. Aku tak mau memakan cinta karena kantuk tau dia bukan teman cinta. Aku ini kantuk, dia bukan dua tujuh.
Saat kantuk menyapa, wahai pemujaku, aku akan berada paling depan laksana kau sebagai seorang patron dalam drama musikal terhebat dan termegah di relung lubang telingaku.
Ciptakanlah konser setiap malam agar aku mengagumimu kantuk.
Kantuk bukan hormon, para pendikte tuhan atas ciptaannya membuatmu terlihat begitu simpel, oh kantuk. Kantuk aku ingin tahu. Apa yang bisa kulakukan agar kantuk mencintaiku?
Aku mau kantuk tahu aku ingin trtunduk mengaduk logika intuisi ku untuk dua delapan.
Aku bukanlah definisi atas pukul 3 malam. Aku bukanlah logika atas 12 siang.
Bukan kantuk kusalahkan.bukan kantuk kuimpikan.
Tarik saja diafragma ku dan bilik kiri jantungku hingga kutemui kantuk disana.
Bangunkan aku di dua tujuh.
Bangunkan aku sebelum lipatan keriput merah ini semakin melegam menghitam tak karuan. Mengemis atas pasangannya yang masih pucat. Uhh, kantuk aku mau.
Selamatkan dari imaji visual tak karuan dan menjijikan seakan semua yang terlihat adalah gambaran selangkangan berjamur yang tak pernah dijemur, hingga muntah dalam perut ku dibuat karena aku mau menyambut kantuk bersih dikamarku.
Mari kantuk jemput aku dalam testimonimu, profilmu, dan segala atasmu.
Hingga tak perlu kau berjalan jauh untuk menemukanku dalam daftar hadiah yang harus diberikan sinterklas ketika natal, maupun tersembunyi di dalam jalinan hijau berisi nasi kepal.
Ayo kantuk ketok pintu.
Dan jemput aku di dua tujuh.

jam session IX : 1 + 8 = 9 on 5 character

if the words could kill me.
i could've been lay on yours.
if the promises could slit my throat cleanly.
it could've been hold on yours.
if the time and the peep-peep tones could hit my eyes till blue.
i could've been ask a white towel from you.

let the wrecked angel sketch my upper palm.
let the zookepers boy open up a rollercoaster for you.

time is a time, if i see it on quantity paradigm.
time is timeless, if i feel it on quality paradigm.
paradigm of ours is a mechanism.
mechanism of ours is an enthusiasm.
enthusiasm of ours is a march of roman army comin.
rushin out rushin in flow out in my ears, the ears of universe.
and my heart as your jerusalem.

i ignore the time.
i ignore the agendas.
i ignore the thoughts.
i ignore the others.

i have no time to waitin plane boarding to a settled location.
i just take the first ticket showin up and let it boards to the unknown universe.
i have no time to think, i'm just believe.
i have no time to tell, i only have a big faith
i have no time to swim, i'm just drowned.
i have no time to show, i only get booked by.

if it's good for me, then makes me thanked you, dear god.
if it's good for you, then makes me heard thanks from you, dearly dear.
if it's good for the other, then makes us yours also, dear universe.
if it's a chemical, then makes us a HYDROGEN and OXYGEN.

TAKK!

jam session VIII : pengantar ilmu politik.

Sekarang orang suka makan kursi.
Sekarang kursi gantinya nasi.
Kalau sudah makan kursi, bukannya kenyang.
Semua jadi senang.
Senang menghisap lintingan akar rumput.
Ditambah uban-uban dan kotoran sapi sejumput.
Tapi kalau sudah makan tidak bersih.
Semuanya masih mengumbar perih.
Sekarang obat perih itu hanyalah.
Air liur yang ditambah.
Gula dan garam agar menjadi obat diare.
Buat mereka yang menjilat-jilat aspal hingga sore.
Bahkan malam.
Bukan buat mereka yang berlantai pualam.
Lalu mana mereka bisa makan kursi?
Kalau nasi saja tidak bisa dibeli dan asi,
Pun dijual kepada bunda kandung lain.
Sampai janin terbawa angin.
Hanya untuk mendapat jatah melamin.
Berdiameter kecil berisi lilin.
Hingga sampai kapan kursi menjadi tren?
Mengalahkan popularitas semu artis berkawat gigi yang beken?
Tren cuma ada di salah satu telapak tangan.
Dan yang lain menampar-nampar angan.
Mengeluh bukan kunci.
Tapi keluh adalah benci.
Demokrasi itu fiksi.
Dan ini susunan diksi.
Mereka menjual diksi.
Menjadikannya film aksi.
Terus mau dikemanakan kami?
Helai-helai yang menopang beton dan dilindas tsunami?
Pesta ini sia-sia.
Membuang-buang koktail dan anggur untuk yang teraniaya.
Membuat luka semakin perih.
Karena mereka tak pernah dikasih.
Presetan dengan garis maupun lubang.
Yang menentukan jalan dan bisa menjadi pedang.
Perang bersenjata mulut dan kabel listrik.
Menggelitik.
Mereka yang skeptik.
Tidak melihat kami yang adiktif.
Atas bentuk perubahan pasif.

jam session VII : a deadly hair gel

ohh, the deadly hair gel.
another breeze of your smells irritates me.
another breeze of views blind me.
another breeze of thoughts tired me off.

ohh the deadly hair gel.
when another heir get laid on his lair
when another hair gets off on his lair
when another gear loose out of from his lair.
is this another great game or an unfair wrestling games?

ohh the deadly hair gel.
it's just a simple way to say
it's just a hardest way to do
it's just a smallest way to take
but it's a biggest things to hate

the deadly hair gel turn me to the uneasy jealousy.

is a perfectness of the diction makes you take an action?
is a loneliness of this section of the soul makes you under?
underestimate me?

i'm not cursing anyone
i'm not at the feel of anger of someone.
it is only the deadly hair gel.

i know i'm only a germs, a bacteria, a virus, a germs, a tissues, a cell, and a pandemic

EATING HORMONES.

jam session VI : bitter sweat of sweet.

Aku telah berdansa dalam api, menari dengan pisau
Sekarang api membakar kepala hingga guratan otakku mengering kering matang.
Siapa mau otakku?
Pisau telah kutelan dan sekarang peniti-peniti menjadi asam lambung untuk mencerna paku.
Aku muak terhadap apresiasi atas adiksi.
Karena memang hidup cuma sekali, maka tak perlu membuka lebih dari satu juga.
Suruh siapa kalau sekarang lebih mudah jatuh cinta?
Cinta terhadap kondensasi berkuantitas persen.
Aku tak mau mengemis sen demi sen karena aku ingin jalan yang lurus.
Ketika api dan pisau membuatku menggigil dan berkedut-kedut ketika malam.
Oh tuhan, kirimkan saja malaikatmu untuk mencumbuku.
Mencumbuku hingga habis nafas di paruku dan menyisakan batu bara cair yang siap dibakar api didalam.
Aku hanya ingin diam, tuhan.
Tapi tuhan tak bisa diam.
Aku hanya ingin sendiri, tapi tuhan tak mau sendiri.
Aku tahu tuhan marah padaku.
Tapi tuhan tak pernah menjelaskan definisi atasnya.
Aku mau tau tuhan.
Berikan aku air, berikan aku bantal.
Aku ingin padamkan api dan menyimpan pisau dalam bantal.
Hingga nanti tak perlu lagi menelan pisau dan bermandi api ketika ku takut.
Tapi menjadinya ketika ku berani.
Aku hanya ingin berhenti.
Tolong, aku penat.
Penat dan kumat hanyalah sebuah definisi tak berdefinitif terhadap suatu bentuk aktif adiktif.
Jadikan aku nabi dalamku dan engkau patronku.
Aku tak punya tujuan, sedangkan nabi membuat tujuan.
Hingga akhirnya api ini nanti padam, maka buatlah api itu membakar pisau juga.
A diksi.
Jadikanku fiksi dalam layar cembung kristal yang ditembak proton elektron dan menjadikannya satuan pelangi yang bergerak.
Hingga lebih kusuka mencumbu genangan darahku dari kerongkongan dan airmata aseton untuk mengobati luka hatiku.
Aku sakit, itu benar.
Aku sehat, itu baik.
Penat.
Senat.
Keparatlah kalian yang tak bisa kusalahkan karena aku sendiri memang kualat.
Terkutuklah orang tuaku dan tenggelamkan saja kapal-kapal itu atau bisa saja membakar mercusuar itu.
Tapi apa daya?
Aku membusuk.
Ini bukan lubang pubertas, ini jurang realitas.

jam session V : when a weed seems far to bid

Siapa yang sudah capai tertawa?
Seakan beberapa batangan ganja berasa seperti tembakau atau karena kau memang mencium gas dari korek api?
Mirip, seperti bau kotoran yang ketika basah dilempar ke mukamu dan mengering seketika. Hingga kukumu kotor.
Hingga nasimu menjadi ladang populan bakteri anus temanmu.
Hingga kau harus memutuskan untuk menahan nafas atau menahan mabuk dari kotoran temanmu yang mengering.
Memabukkan.

Aku sudah capai tertawa.
Tuhan pun tidak ikut tertawa.
Aku ingin baik, Tuhan…
Namun Tuhan menjawab baikku dengan kejamnya, kejamnya baik bukanlah benar padaku dan buruk itu benar bagi-Nya, apa nya?
Dia adalah adanya,bukan Nya.
Aku memang tertawa, tapi itu doa baginya, baginya doa adalah umpatan, umpatan ketidaktahuan atas-Nya dan meledek sebelum berkenalan dengan-Nya.
Tuhan aku ingin tahu.
Aku ingin tahu ingin apa aku nanti.
Setelah capai tertawa.
Tuhan yang bakal mendoakanku balik, meledekku dengan benar, karena dia benar ada-Nya, sehingga adanya.

Adanya cawan itu hanyalah petunjuk bagiku?
Karena dia adalah buatan-Mu, oh tuhan betapa kau dengan penuh mood menciptakannya, dan bukan bagiku untuk-Nya.
Jika dia endemi, itulah kutukan-Mu padaku.

Aku sudah capai tertawa.

Akulah pangeran buruk rupa sebagai nabi-Mu dan karenamu aku hanya ragu untuk tinggal dalam kerajaan-Mu dan memangsamu dengan sebuah pisau bedah dan menggunakannya sebagai pengoles margarin di atas lipatan ususmu.

Akulah endemi bagiku dan kau kutukan bagiku.
Karena-Mu lah aku menjangkit tubuhku, dengan harapan kutukan hanya berpaling dariNya dan bukan dirinya.

jam session IV : ontologi agnosti I

Senyawa Satuan Kotoran Kuping

Aku benci mendengar kunci
Tak dirantai satu dengan yang lain, tai!
Siapa ketok diriku bengkok
Menekuk punggung patah kusen daun pintu, bisa ditunggu?
Siapa ayal sendiri adalah khayal
Menepi sampan sepi sendiri menghanyut diri ditemani nampan
Nampan-nampan kosong, tampan.
Kilah itu berkilah atas allah
Mengapa satupun tuhan kau anggap sebagai bualan?
Seakan baik adalah konsep dan benar itu eksekusi oleh asep
Seorang ahli wacana yang berbicara tanpa rencana
Menjungkalkan keragaman hanya dengan asas iman
Imanitas bukan imunitas
Terhadap penyakit kebenaran yang ternyata itu sakit
Sakit kuning, matamu bengkak sampai kening
Menghitam, makin hitam makin legam
Legam arang banggalah kau mengerang
Kepadanya seakan ia mendengar ajakan
Dirimu manusia lemah kolektif yang merasa benar atas rahasia
Universal hingga ayal
Diri hanya tertawa mendengar itu hanya senyawa
Kotoran kuping yang kau harap tuk menjawab keping
Persoalanmu, bahkan itu tak mampu
Memberi solusi apakah itu baik aku tak tahu apakah itu intuisi
Dirimu atau gilakah dirimu yang layu termakan hingga semu
Hingga akhirnya para pasukan pendengar senyawa di kuping mereka akan bertanya
Atau mungkin menjawab langsung, bahwa mereka secara langsung
Adalah benar dan lain itu mungkar?
Hingga makar dan alas tikar menjadi alasan untukmu menjadi kasar?
Memisahkan kepala dan badan ku hanya karena akan
Benar menjadi dua, dan bahkan aku menjadi
Orang yang paling baik yang bakal naik
Menuju kesadaran sempurna mengenai kotoran kuping seorang benar yang berbau tai
Urai ususku hingga kau terbuai
Merah darah yang telah terarah
Atas keburukan yang kau cap sebenarnya adalah anugerah yang kau tidak lakukan
Lakukan, maka kau lihat dan telan
Semua asumsi atas intuisi
Hanya berasal dari sebuah kotoran kuping banal

Tutup kuping mu dan temu keningmu bukan di alasmu maupun petamu.

jam session III : a diksi

A diksi
Fiksi memacariku
Erat dalam hatiku
Bersetubuh dengannya oh aku melenguh sembari bernyanyi
Entah pilu kurasa tanpa fiksi
Oh diksi merindukanku kah dirimu
Berargumen denganmu sepanjang malamku
Terjagalah aku dalam pelukmu
Hangatmu hingga jauh kedalamku
Oh diksi
Aku ini fiksi kah?
Memanjat puncak kesadaran bahwa aku tak mau fiksi
Tapi fiksi itu nyata
Senyata kau merasa dingin ketika basah
Hingga menjadi hangat dirimu
Berciuman dengan fiksi
Hingga aku setia hanya ingin menciummu
Tidak yang lain
Karena mereka tahu aku milikmu, diksi
Diksi bukan fiksi
Karena aku tak mau itu menjadi fiksi
Biarlah diksi mentato perutku
Selamanya menemani
Hingga ku berbaring nanti
Entah di atas seprai berlogo tim sepakbola
Ataupun diatas ular-ular yang melilit tongkat
Dan menggitku di nadi
Menghidupiku
Dengannya matiku kutumpu.

jam session II : layar kelamin

Konvensionalitas sebuah perasaan manis hanyalah bualan fiksi pada layar yang semakin tipis.
Ah, aku mau pipis.
Sampai mulut dan muka lacur mereka yang berbalut kawat karet menjadi berbau cuka dan lengket.
Siapa yang mau bertamu kalau mereka tak menyediakan pintu untukku?
Semua rumah telah menyatakan tak ada kamar kosong didalam.
Hanya dapur, dapur, dan dapur.
Memanggang intuisi dan terbujur kaku pada nampan siap saji sang koki.
Voila, koki itu nabi.
Tuhan itu aku.
Dan semua manusia telah menjadi tuhan.
Siapa sanggup menerima kualitas jika kuantitas dianggap dalam satuan koma, dan menjadi kitab suci para penikmat tak bermata juga beriman.
Bukan iri sebagai inti, dan aku mau menjadi bagian dari kalian.
Tapi visi bukan misi yang kalian tawarkan menjadi jijik di seluruh panca indra.
Mari berdusta atas dasar kebaikan yang kalian cap.
Semua individu menjadi abu dalam sebuah senapan berbalut kabel dan mengikat seluruh.
Perbudaklah aku dalam menu kalian.
Ini bukan resto, ini adalah apa yang kalian jajakan.
Pewarna pengawet, rusaklah apa yang mau menjadi baik.
Sungguh kasihan jika vagina dan penis-penis muda disana lebih bisa berorgasme lebih cepat karena kalian.
Ejakulasi dini atas tampilan televisi.

jam session I : an eye of the universe

kalau malam belum senja, pagi mau jadi apa?
kutelanjangi sekitar, nikotin dan tar.
kalau memang semua bisa diulang, toh ini tidak jadi seru.
tidak menarik.
menarik ususku keluar dari pusar.
sehingga bisa diambil endapan etanol juga mephitamin, di lilitan merah jinggaku.
kalau memang menyesal, bukanlah sesal yang harus diadu pada yang kekal.
terimakasih tuhan, karenanya sesal menjadi petunjuk ajal.
sehingga tak perlu penasaran, kemana ajal menuntun ke kuburan terdekat.
tapi tanah sudah sempit, toh jadikan saja abu, penis dan seluruh hasilnya di badanku.
terburai, hingga tak sadar seluruh samudra dalam pelukan.
hingga pada akhirnya konsepsi baik benar adalah banal di pikiran berbasis iman.
aku akan berdakwah pada tatanan non hiearki di tempat setelah aku mati nanti.
bagaimana bodohnya teman-teman satu genus ku, ordo ku, dan segala sesuatu,
segala sesuatu yang mirip dengan ku, walau kita hanya berbeda,
berbeda penis dan labia mayora untuk menjadi kita.
ovum-ovum itu indah.
embrio itu ledakan besar.
bumi itu sel, dan kita adalah kromosom yang berpendidikan di tata surya.
karena sejatinya tuhan itu utuh.
kalau memang sekompleks itu, toh tak akan ada ilmu bagi mereka.
mereka penderita disleksia dan tunarungu yang beriman paling bau dan busuk.
aku pakai susuk.
maunya.
selebritasi itu fiksi.
mengagumi imaji dalam sebuah layar fiksi.
penuh aksi.
situasi.
hingga tuhan tak berada lagi di sisi.
dan pada ujungnya.
semua tanya menjadi jawab bagi tanya yang lain.
bukan karena kau bertanya.
tapi apa itu tanya, kalau kau tidak menemukan tanya dalamnya.
maka sekarang hanya satu ketukan-ketukan piano tak bertuts dan bernada dalam dunia maya.
menemani imaji yang berlari, tau-tau sudah tak bisa dikejar.
aku lelah.
aku ingin lupa semua, tapi nanti bisa lupa nikmatnya orgasme.
aku ingin beres semua, tapi nanti bisa lupa dimana kau taruh itu tisu.
berantakan.
diksi diksi diksi diksi fiksi fiksi intuisi.
segitiga,mata, dan sembilan pada angka.

ambil saja raga ini, biar mereka puas dan tak bertanya pada pagi dini.
karena aku bukan simbol dan nilai.
akulah matematik.
berhitung dalam setiap delik.
titik.

joxes.

A TEN GIMMICKS OF 'BUJANG'


1. bermata elang berkantung, mengintai wanita yang memiliki "kantung" yang disegani di atas perut dan paras ciamik menurut paradigma pribadi.


sangat cepat bertindak, tidak memakai indra lain dalam merasakan mangsa, hanya sedikit lirikan diikuti lolongan dan pernyataan khas kelompok. biasa diiringi oleh anggukan tanda aklamasi terhadap target dan tambahan catatan non-ilmiah mengenai sang target.
seorang pakar dalam hal ini, memiliki riwayat salah urat di leher yang sangat jarang, dan dapat mengkoordinasi kedua bola mata agar dapat melakukan trik "melirik tapi tidak melirik"

2. bereaksi spontan ,reaktif dan diluar nalar terhadap lawan jenis.

dalam kasus ini, selain merupakan hasil lanjutan dari gejala sebelumnya, reaksi yang diberikan bukan merupakan sebuah hasil dari aksi si lawan jenis, namun lebih terlihat seperti suatu keinginan dari dalam lubuk hati yang menggambarkan suatu niatan "berkenalan tapi gak tau mau kenalan seperti apa"
dapat berkomplikasi dengan gejala 1, dimana lirikan yang terjadi terlalu frontal dan sering dibalas dengan tatapan "jijik" sang target.

3. daya imajinatif berlebih. sebuah bakat berbicara dengan benda mati

gejala umum pada kalangan bujang yang mencari kesibukan di dunia maya, terutama yang memiliki bau-bau "anak warnet ya mas?" atau yang berkontur muka layak mouse infra red. diawali dengan perilaku konsentrasi tinggi pada suatu benda mati tersebut dan seolah-olah memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara dua arah.
dalam suatu kasus sederhana, terlihat efek gejala 3 ini pada pengguna dan pemakai permainan2 video, entah terlihat dari gerak gerik badannya yang mengikuti alur dari permainan tersebut (bagi pengguna nintendo wii, gejala ini tidak berlaku), maupun secara tidak sengaja, ataupun terbawa emosi, mengumpat ataupun mengajak berbicara kepada gambar yang terdapat di dalam layar.

4. berpenampilan maksimal, tapi tetap kumal.

dalam gejala ini, bujang biasanya memiliki suatu ciri khas dalam penampilan mereka dalam suatu niatan untuk menaikkan nilai jual dan komersialitas di mata lawan jenis. namun apa daya, karena tidak adanya penasihat busana, yang notabene merupakan pasangan lawan jenisnya, penampilan yang disusun dengan penuh strategi dan ambisi hanya berakhir pada komentar sarkastik bujang lainnya.
secara singkat : "ganteng banget lu hari ini"

5. berjiwa seni tinggi, dapat menghayati semua bentuk seni dengan lebih efektif.

dapat dibilang sebuah "romantika bujang" tapi tetap saja pahit. seorang bujang dapat memiliki bakat alami menjadi seorang kurator/penulis resensi sebuah album musik atau karya seni lainnya dalam waktu singkat, memaknai lirik dan susunan nada seakan-akan mempunyai makna yang tersirat di dalamnya, ditambah kemampuan apresiasi yang tinggi.
contoh gamblang : segerombol bujang + malam hari + seonggok gitar + biasanya diiringi plastik2 hitam berisi cairan + pengetahuan atas band pop lawas romantik yang sudah dikenal = sebuah orkesta pilu atas gambaran kehidupan cinta seorang bujang.

6. berlibido tinggi. nyaris melewati batas adiksi.

dalam kasus ini, jelaslah bahwa kesendirian kadangkala membawa suatu perilaku menyendiri yang khas, dimana "kalo gak bisa berdua, sendiri juga bisa". yang menghasilkan suatu kepuasan biologis yang manis. jika dalam hal ini, pasien bujang tidak bisa melakukan hal yang sendirian, libido tersebut akan dikeluarkan melalui indra lain, biasanya terlihat dari gejala 1 yang semakin parah, tatapan liar dan buas, dan gejala 2 yang semakin anonoh.
dalam suatu contoh perilaku yang diambil dari seorang sampel secara langsung, terlihat dari susunan wacana-wacana yang dikeluarkan, hampir 70% berbau selangkangan dan pekerjaan "orang dewasa" lainnya.

7. munculnya bakat alkoholik terpendam

gejala ini kadangkala diawali dengan tindakan apresiasi terhadap suatu karya seni (biasanya lagunya ngepas), dan berujung kepada curahan hati atas pengalaman asmara si bujang. lalu dengan inisiatif yang inovatif mencoba menumpahkan perasaan yang terpendamnya kepada suatu kumpulan lembaran tuanku imam bonjol yang terkumpul dan berubah menjadi sesuatu yang lain dalam proses jual beli.
pengalaman alkoholik tersebut menimbulkan sebuah tingkatan baru atas gejala 5 yang lebih akut. mungkin bisa menangis sambil tertawa ataupun berdawai dengan lihai, walau suara kurang "masuk".

8. potensi menjadi "pembalap" lepas dalam sebuah (atau lebih) sirkuit.

untuk gejala ini, mungkin lebih sensitif dibanding gejala lainnya. karena lebih merupakan perilaku individual dengan individual bujang lain, yang sama-sama tidak mengetahui bahwa mereka berada di suatu sirkuit yang sama. sehingga mau tak mau, siapa rossi dia dapat.
contoh sudah bisa dapat dilihat maupun dirasakan oleh teman-teman yang di tag.

9. terlihat lebih atraktif. dengan beberapa atraksi

dapat terlihat dari sample bujang "muda", mungkin masih dalam waktu transisi. berbeda dari kasus gejala 4, dalam hal ini sang bujang melakukan beberapa manuver fisik maupun output desibel yang mempunyai tujuan untuk menarik perhatian lawan jenis. jarang terlihat di kalangan bujang akut lainnya. silahkan cari di kawasan bujang2 "puber" untuk contoh kasus yang lebih jelas.

10. memiliki tanda 10 anak bergizi buruk, dan mungkin semua kombinasi di atas

berperut buncit, kantung mata hitam, kuku panjang hitam tak terawat, berbau badan yang khas, berjalan bungkuk, sulit tidur dikala malam, terlilit hutang, pencernaan buruk, bentuk gigi buruk disertai warna kusam dan beberapa kerak dan lubang, serta sulit berkonsentrasi pada hal formal, selain kepada lawan jenis merupakan bentuk gejala fisik dari seorang bujang stadium akhir. silahkan konsultasikan kepada teman terpercaya anda (usahakan bukan sesama bujang) dan berusaha lebih keras adalah jalan keluar dari ciri-ciri pilu di atas.

ahlan wa sahlan.

tikus gotku yang buntung ekornya

Tikus Got ku yang Buntung Ekornya


Kulihat mangga arumanis yang baru kubeli kemarin telah jatuh dari meja dapur dan terlihat beberapa koyakan kasar hingga menembus bijinya. Mangga ini kesukaanku. Ku tahu pelakunya. Pastilah. Pasti si tikus got yang kupelihara karena setelah menyusup ke rumah ini, ia tidak pernah keluar lagi. Apa karena itu kusebut binatang peliharaan? Tikusku tak pernah kuurus. Aku dan dia sama sekali tidak mengenal. Ia hanya suka keluar saat ku keluar. Ia selalu takut tuk menghampiriku. Bau mayat, katanya. Terakhir kali kami bertemu adalah saat ku tak sengaja pulang kerumah diluar waktu ku biasa pulang. Jam duabelas malam. Tepat. Yap, jam duabelas malam tepat. Saat itu kulihat ia sedang mencoba tuk mengambil sisa pizza yang kubeli tadi sore untuk kumakan lagi sebagai sarapan ketika ku pulang bekerja. Kukesal melihatnya. Kutarik ia dari sisi meja. Tanpa mendengar satu patah kata maaf yang keluar, ku potong ekornya dengan pisau yang selalu kubawa. Karena jika ku tak membawa pisau, aku takkan bisa bekerja bukan? Ia pun meronta dan akhirnya lepas dari peganganku dan pergi entah kemana di sudut dapur. Lain kali ku potong saja kepalamu.

Mangga arumanis ku tinggal satu. Kutaruh di dalam lemari agar ia tidak bisa mengambil seenaknya lagi. Kutaruh mangga itu bersebelahan dengan apel Washington yang kudapat dari dapur orang lain ketika ku bekerja. Entah apa yang membuatku ingin mengambil apel mahal ini. Anggap saja oleh-oleh, atau gaji yang kudapat dari kubekerja. Kusuka warna apel ini. Merah. Membuatku selalu bersemangat bekerja. Kututup lemariku dan tidak lupa kuberteriak di dapur agar ia tahu. Jangan coba-coba mengambil apa yang ada di lemari dapur, kalau tidak, kepalamu yang hilang kali ini.

Pekerjaan ku malam ini sedikit repot tuk dilakukan. Klien ku bawel, kutawari tender menarik tapi ia menolak dengan kasar. Apa boleh buat, ia tak kuberi potongan harga. Karena itu, pulang bekerja kulangsung mandi dan mengganti pisau baru. Bau mayat, katanya begitu. Dari pada ia meninggalkan rumah ini. Siapa lagi yang bisa menggantikannya bersembunyi didapur menunggu kepalanya hilang?

Sehabis mandi memang menyenangkan. Walaupun lantai kamar mandi sudah tidak enak lagi dipandang. Pertama kali ku ganti ubin kamar mandi menjadi warna putih, ia sering ada di balik pintu kamar mandi. Kutahu dari suaranya, habis kau mandi, aku ingin minum. Sekarang, ubin putihku memudar. Lebih tepat memerah. Semakin sering kubekerja, ia semakin malas minum dan untuk memuaskan dahaganya ia lebih suka air wastafel, sebelah tumpukan pisau yang kupakai bekerja. Aneh. Bukannya lebih bau pisau itu daripada badanku ini? Bau mayat, itu katanya ketika kutanya alasan mengapa ia meminum air dari wastafel sekarang. Aku masih hidup. Ia membenciku.

Sampai sekarang bukanlah aku yang mengahantuinya. Ia yang menghantuiku. Mungkin karena ekornya. Ia masih dendam ekornya diambil oleh manusia sepertiku. Mungkin dalam dunia tikus. Kehilangan ekor sama saja dengan kehilangan status dirinya dalam dunia tikus. Oleh itulah ia tidak pernah keluar dari rumahku. Selalu menghantuiku. Hingga hari ini.

Hari dimana kusembunyikan mangga arumanis di dalam lemari dapurku.

Ia pergi.

Setidaknya ia meninggalkan pesan bahwa ia pergi.

Kenop pintu dapur, terkoyak juga. Menandakan ia telah keluar.

Aku sedih.

Apakah karena pekerjaanku hari ini terasa sedikit berlebihan dari sebelumnya?

Apa karena sampai sekarang aku tidak bisa menggantikan cacat-nya. Dan membayar hutang ekornya yang hilang? Ugh, aku menangis. Menangis sejadi-jadinya. Kemana ia saat aku tidak membutuhkannya tuk kuambil kepalanya? Aku tahu aku salah. Aku tahu aku yang memenggal ekormu, dan kuancam dirimu sebelumnya. Aku minta maaf pada apa yang tidak kulihat.

Tikus got ku…

Keesokan harinya, aku berhenti bekerja dulu. Bau mayat. Dilanjutkan keesokan harinya, dan keesokan harinya lagi. Sudah 3 hari aku tidak bekerja. Surat kabar yang kubaca sudah tidak menampilkan beritaku lagi. Kepala polisi kotaku sudah tidak membicarakanku lagi. Babi berpangkat dan berseragam coklat sudah tidak ada yang menggangguku lagi. Pernah suatu hari 2 babi menggangguku bekerja. Gara-gara mereka klienku lari. Sehingga merekalah yang kutawari tender menarik saat itu. Lumayan. 2 minggu setelahnya kubekerja dengan pistol. Supaya tidak bau. Bau mayat, katanya.

Akhirnya, setelah 3 hari tidak bekerja, ia datang. Tanpa mengucap salam ia berlalu didepanku. Mengambil apel di lemari. Dan memakannya didepanku dengan senyum hina. Kau tidak bekerja, katanya. Tumben, katanya lagi. Kutidak menjawab. Ku bergegas ke dapur, mengambil pisau terbaik tuk menyambutnya. Hati ini senang ia pulang, tapi ia melanggar janji. Ia mengambil apel di dalam lemari. Ia melawanku. Ia tidak membenciku lagi. Aku membencinya. Kuhampiri ia dengan tenang. Kuelus kepalanya. Ia tidak heran dibuatnya. Aku sudah tidak bau lagi soalnya. Bau mayat. Ku baringkan dia dengan paksa selanjutnya. Ia meronta, apelku jatuh, sudah 4 gigitan dibuatnya. Sial. Bekas gigitan membuatku semakin membencinya. Kutahan ia agar tidak meronta. Kudongakkan kepalanya keatas. Ku taruh pisau dingin di dekat tenggorokannya. Betapa beruntungnya kau, pikirku. Kau kulakukan selayaknya klienku. Ia pun menangis, meronta, dan meringis panik. Sama dengan para klienku. Kupuji ia, hebat. Seekor tikus yang menyerupai klienku. Hebat. Seekor tikus yang membenciku. Seekor tikus yang menghantuiku. Seekor tikus yang mengingatkanku sebegitu baunya aku. Bau mayat. Hebat. Sambil memuji kuiris pelan-pelan lehernya hingga terbentuk suatu garis, dan mengeluarkan darah. Semakin lama semakin dalam. Kutak mau terburu-buru. Kuiris pelan-pelan agar ia tahu, agar ia jera. Untuk menghilangkan penderitaanya kuceritakan dongeng kepahlawanan tentang setan yang menantang tuhan, lalu dibuang ke dunia, dan karena sifat patriotisme nya kita hidup dengan setan, bukan dengan tuhan.

Ia semakin terlihat menderita. Aliran darah semakin membasahi lenganku. Dan ia semakin kehilangan kesadaran. Lantunan perkataan maaf mangalun dari mulutnya yang kecil, kukecup mulut kecilnya, kutanamkan gigiku, kukunyah pelan-pelan. Rasanya sedikit berbeda dibandingkan saatku bekerja, setidaknya ini lebih mudah, tapi lebih kecil. Apa boleh buat. Aku lapar. Maka ku bekerja dirumah sekarang.

Setelah ku bekerja di rumah. Ada yang terasa hilang dipikiranku. Tidak ada yang mengingatkanku kali ini. Untuk mandi ketika habis bekerja, kalo tidak nanti bau. Bau mayat. Tapi kali ini mayat tikus.

Tikus got ku yang buntung ekornya.

introductio!

i used to write and share on your live event life.
but human are greedy, and i am on the same curtain.
so, i swift my shoes and lick my ear till my eyes get fogged.
I'VE GOT A BLOG.

fin