jam session VIII : pengantar ilmu politik.

Sekarang orang suka makan kursi.
Sekarang kursi gantinya nasi.
Kalau sudah makan kursi, bukannya kenyang.
Semua jadi senang.
Senang menghisap lintingan akar rumput.
Ditambah uban-uban dan kotoran sapi sejumput.
Tapi kalau sudah makan tidak bersih.
Semuanya masih mengumbar perih.
Sekarang obat perih itu hanyalah.
Air liur yang ditambah.
Gula dan garam agar menjadi obat diare.
Buat mereka yang menjilat-jilat aspal hingga sore.
Bahkan malam.
Bukan buat mereka yang berlantai pualam.
Lalu mana mereka bisa makan kursi?
Kalau nasi saja tidak bisa dibeli dan asi,
Pun dijual kepada bunda kandung lain.
Sampai janin terbawa angin.
Hanya untuk mendapat jatah melamin.
Berdiameter kecil berisi lilin.
Hingga sampai kapan kursi menjadi tren?
Mengalahkan popularitas semu artis berkawat gigi yang beken?
Tren cuma ada di salah satu telapak tangan.
Dan yang lain menampar-nampar angan.
Mengeluh bukan kunci.
Tapi keluh adalah benci.
Demokrasi itu fiksi.
Dan ini susunan diksi.
Mereka menjual diksi.
Menjadikannya film aksi.
Terus mau dikemanakan kami?
Helai-helai yang menopang beton dan dilindas tsunami?
Pesta ini sia-sia.
Membuang-buang koktail dan anggur untuk yang teraniaya.
Membuat luka semakin perih.
Karena mereka tak pernah dikasih.
Presetan dengan garis maupun lubang.
Yang menentukan jalan dan bisa menjadi pedang.
Perang bersenjata mulut dan kabel listrik.
Menggelitik.
Mereka yang skeptik.
Tidak melihat kami yang adiktif.
Atas bentuk perubahan pasif.

No comments:

Post a Comment