Senyawa Satuan Kotoran Kuping
Aku benci mendengar kunci
Tak dirantai satu dengan yang lain, tai!
Siapa ketok diriku bengkok
Menekuk punggung patah kusen daun pintu, bisa ditunggu?
Siapa ayal sendiri adalah khayal
Menepi sampan sepi sendiri menghanyut diri ditemani nampan
Nampan-nampan kosong, tampan.
Kilah itu berkilah atas allah
Mengapa satupun tuhan kau anggap sebagai bualan?
Seakan baik adalah konsep dan benar itu eksekusi oleh asep
Seorang ahli wacana yang berbicara tanpa rencana
Menjungkalkan keragaman hanya dengan asas iman
Imanitas bukan imunitas
Terhadap penyakit kebenaran yang ternyata itu sakit
Sakit kuning, matamu bengkak sampai kening
Menghitam, makin hitam makin legam
Legam arang banggalah kau mengerang
Kepadanya seakan ia mendengar ajakan
Dirimu manusia lemah kolektif yang merasa benar atas rahasia
Universal hingga ayal
Diri hanya tertawa mendengar itu hanya senyawa
Kotoran kuping yang kau harap tuk menjawab keping
Persoalanmu, bahkan itu tak mampu
Memberi solusi apakah itu baik aku tak tahu apakah itu intuisi
Dirimu atau gilakah dirimu yang layu termakan hingga semu
Hingga akhirnya para pasukan pendengar senyawa di kuping mereka akan bertanya
Atau mungkin menjawab langsung, bahwa mereka secara langsung
Adalah benar dan lain itu mungkar?
Hingga makar dan alas tikar menjadi alasan untukmu menjadi kasar?
Memisahkan kepala dan badan ku hanya karena akan
Benar menjadi dua, dan bahkan aku menjadi
Orang yang paling baik yang bakal naik
Menuju kesadaran sempurna mengenai kotoran kuping seorang benar yang berbau tai
Urai ususku hingga kau terbuai
Merah darah yang telah terarah
Atas keburukan yang kau cap sebenarnya adalah anugerah yang kau tidak lakukan
Lakukan, maka kau lihat dan telan
Semua asumsi atas intuisi
Hanya berasal dari sebuah kotoran kuping banal
Tutup kuping mu dan temu keningmu bukan di alasmu maupun petamu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment