jam session I : an eye of the universe

kalau malam belum senja, pagi mau jadi apa?
kutelanjangi sekitar, nikotin dan tar.
kalau memang semua bisa diulang, toh ini tidak jadi seru.
tidak menarik.
menarik ususku keluar dari pusar.
sehingga bisa diambil endapan etanol juga mephitamin, di lilitan merah jinggaku.
kalau memang menyesal, bukanlah sesal yang harus diadu pada yang kekal.
terimakasih tuhan, karenanya sesal menjadi petunjuk ajal.
sehingga tak perlu penasaran, kemana ajal menuntun ke kuburan terdekat.
tapi tanah sudah sempit, toh jadikan saja abu, penis dan seluruh hasilnya di badanku.
terburai, hingga tak sadar seluruh samudra dalam pelukan.
hingga pada akhirnya konsepsi baik benar adalah banal di pikiran berbasis iman.
aku akan berdakwah pada tatanan non hiearki di tempat setelah aku mati nanti.
bagaimana bodohnya teman-teman satu genus ku, ordo ku, dan segala sesuatu,
segala sesuatu yang mirip dengan ku, walau kita hanya berbeda,
berbeda penis dan labia mayora untuk menjadi kita.
ovum-ovum itu indah.
embrio itu ledakan besar.
bumi itu sel, dan kita adalah kromosom yang berpendidikan di tata surya.
karena sejatinya tuhan itu utuh.
kalau memang sekompleks itu, toh tak akan ada ilmu bagi mereka.
mereka penderita disleksia dan tunarungu yang beriman paling bau dan busuk.
aku pakai susuk.
maunya.
selebritasi itu fiksi.
mengagumi imaji dalam sebuah layar fiksi.
penuh aksi.
situasi.
hingga tuhan tak berada lagi di sisi.
dan pada ujungnya.
semua tanya menjadi jawab bagi tanya yang lain.
bukan karena kau bertanya.
tapi apa itu tanya, kalau kau tidak menemukan tanya dalamnya.
maka sekarang hanya satu ketukan-ketukan piano tak bertuts dan bernada dalam dunia maya.
menemani imaji yang berlari, tau-tau sudah tak bisa dikejar.
aku lelah.
aku ingin lupa semua, tapi nanti bisa lupa nikmatnya orgasme.
aku ingin beres semua, tapi nanti bisa lupa dimana kau taruh itu tisu.
berantakan.
diksi diksi diksi diksi fiksi fiksi intuisi.
segitiga,mata, dan sembilan pada angka.

ambil saja raga ini, biar mereka puas dan tak bertanya pada pagi dini.
karena aku bukan simbol dan nilai.
akulah matematik.
berhitung dalam setiap delik.
titik.

No comments:

Post a Comment