Kalau sekarang kantuk tak dapat dibeli, dimana lagi waralaba yang menjual kondensasi berisi pil seukuran kelingking jariku? Ah aku mengantuk, aku ingin bernyanyi tentang kantuk, aku ingin bercinta dengan kantuk, dia tahu kantuk bukan milikku, aku ingin berlayar berpesiar dengan kantuk, aku ingin kantuk belikanku alarm, bel, dari susunan emas bercampur karat, hingga jika dipukul kantuk tak akan hilang dariku.
Hitunglah hingga dua puluh tujuh aku meniup lilin, aku ingin kantuk sebagai kado terindah. Semua yang pernah terkantuk, tersangkut, maupun terangkut oleh kuantitasi atas kuesioner hingga mereka sudah tidak bisa dijabarkan lagi, manusia ataukah sebuah industri yang terdapat atasnya, hasilnya, ucapan, sentuhan di garis-garis besi, pahatan balok kayu maple yang nyaring, mapun badut terkotor yang suka menyapu lantai, oh aku mau mereka mau, menjadi tujuan kantukku.
Tolong jangan ganggu cintaku terhadap kantuk, karena kantuk adalah elixir, obat dari segala obat, tak ingin kubuat ku kelu dan rapuh kalau tak ada kantuk.
Kantuk itu tuhanku, kantuk itu jalanku, aku ingin kantuk di dua tujuh.
Sekarang sudah tak cemas kutanya dan awas kuhindar kalau ku mau kantuk ada untuk kuperas.
Hei kantuk dengarkah dirimu, kalau ada seorang lain tau kantuk tidak mau aku sendiri bersama kantuk, aku hanya ingin kantuk tahu, jika menurutku semua sudah terlambat. Maka semua jaringan merah muda penyambung nafasku telah menjadi abu, pipa merah pucatku telah menjadi radang dalam laparku, gumpalan keringatku telah berbau gandum basi dan membentuk bulir dan kondensasi mematikan jika dicampur balsem pijat. Kalau lah belum terlambat oh kantuk, maka beri aku ganti. Aku tak memakan kantuk, karena kantuk itu cinta. Aku tak mau memakan cinta karena kantuk tau dia bukan teman cinta. Aku ini kantuk, dia bukan dua tujuh.
Saat kantuk menyapa, wahai pemujaku, aku akan berada paling depan laksana kau sebagai seorang patron dalam drama musikal terhebat dan termegah di relung lubang telingaku.
Ciptakanlah konser setiap malam agar aku mengagumimu kantuk.
Kantuk bukan hormon, para pendikte tuhan atas ciptaannya membuatmu terlihat begitu simpel, oh kantuk. Kantuk aku ingin tahu. Apa yang bisa kulakukan agar kantuk mencintaiku?
Aku mau kantuk tahu aku ingin trtunduk mengaduk logika intuisi ku untuk dua delapan.
Aku bukanlah definisi atas pukul 3 malam. Aku bukanlah logika atas 12 siang.
Bukan kantuk kusalahkan.bukan kantuk kuimpikan.
Tarik saja diafragma ku dan bilik kiri jantungku hingga kutemui kantuk disana.
Bangunkan aku di dua tujuh.
Bangunkan aku sebelum lipatan keriput merah ini semakin melegam menghitam tak karuan. Mengemis atas pasangannya yang masih pucat. Uhh, kantuk aku mau.
Selamatkan dari imaji visual tak karuan dan menjijikan seakan semua yang terlihat adalah gambaran selangkangan berjamur yang tak pernah dijemur, hingga muntah dalam perut ku dibuat karena aku mau menyambut kantuk bersih dikamarku.
Mari kantuk jemput aku dalam testimonimu, profilmu, dan segala atasmu.
Hingga tak perlu kau berjalan jauh untuk menemukanku dalam daftar hadiah yang harus diberikan sinterklas ketika natal, maupun tersembunyi di dalam jalinan hijau berisi nasi kepal.
Ayo kantuk ketok pintu.
Dan jemput aku di dua tujuh.
jam session IX : 1 + 8 = 9 on 5 character
if the words could kill me.
i could've been lay on yours.
if the promises could slit my throat cleanly.
it could've been hold on yours.
if the time and the peep-peep tones could hit my eyes till blue.
i could've been ask a white towel from you.
let the wrecked angel sketch my upper palm.
let the zookepers boy open up a rollercoaster for you.
time is a time, if i see it on quantity paradigm.
time is timeless, if i feel it on quality paradigm.
paradigm of ours is a mechanism.
mechanism of ours is an enthusiasm.
enthusiasm of ours is a march of roman army comin.
rushin out rushin in flow out in my ears, the ears of universe.
and my heart as your jerusalem.
i ignore the time.
i ignore the agendas.
i ignore the thoughts.
i ignore the others.
i have no time to waitin plane boarding to a settled location.
i just take the first ticket showin up and let it boards to the unknown universe.
i have no time to think, i'm just believe.
i have no time to tell, i only have a big faith
i have no time to swim, i'm just drowned.
i have no time to show, i only get booked by.
if it's good for me, then makes me thanked you, dear god.
if it's good for you, then makes me heard thanks from you, dearly dear.
if it's good for the other, then makes us yours also, dear universe.
if it's a chemical, then makes us a HYDROGEN and OXYGEN.
TAKK!
i could've been lay on yours.
if the promises could slit my throat cleanly.
it could've been hold on yours.
if the time and the peep-peep tones could hit my eyes till blue.
i could've been ask a white towel from you.
let the wrecked angel sketch my upper palm.
let the zookepers boy open up a rollercoaster for you.
time is a time, if i see it on quantity paradigm.
time is timeless, if i feel it on quality paradigm.
paradigm of ours is a mechanism.
mechanism of ours is an enthusiasm.
enthusiasm of ours is a march of roman army comin.
rushin out rushin in flow out in my ears, the ears of universe.
and my heart as your jerusalem.
i ignore the time.
i ignore the agendas.
i ignore the thoughts.
i ignore the others.
i have no time to waitin plane boarding to a settled location.
i just take the first ticket showin up and let it boards to the unknown universe.
i have no time to think, i'm just believe.
i have no time to tell, i only have a big faith
i have no time to swim, i'm just drowned.
i have no time to show, i only get booked by.
if it's good for me, then makes me thanked you, dear god.
if it's good for you, then makes me heard thanks from you, dearly dear.
if it's good for the other, then makes us yours also, dear universe.
if it's a chemical, then makes us a HYDROGEN and OXYGEN.
TAKK!
jam session VIII : pengantar ilmu politik.
Sekarang orang suka makan kursi.
Sekarang kursi gantinya nasi.
Kalau sudah makan kursi, bukannya kenyang.
Semua jadi senang.
Senang menghisap lintingan akar rumput.
Ditambah uban-uban dan kotoran sapi sejumput.
Tapi kalau sudah makan tidak bersih.
Semuanya masih mengumbar perih.
Sekarang obat perih itu hanyalah.
Air liur yang ditambah.
Gula dan garam agar menjadi obat diare.
Buat mereka yang menjilat-jilat aspal hingga sore.
Bahkan malam.
Bukan buat mereka yang berlantai pualam.
Lalu mana mereka bisa makan kursi?
Kalau nasi saja tidak bisa dibeli dan asi,
Pun dijual kepada bunda kandung lain.
Sampai janin terbawa angin.
Hanya untuk mendapat jatah melamin.
Berdiameter kecil berisi lilin.
Hingga sampai kapan kursi menjadi tren?
Mengalahkan popularitas semu artis berkawat gigi yang beken?
Tren cuma ada di salah satu telapak tangan.
Dan yang lain menampar-nampar angan.
Mengeluh bukan kunci.
Tapi keluh adalah benci.
Demokrasi itu fiksi.
Dan ini susunan diksi.
Mereka menjual diksi.
Menjadikannya film aksi.
Terus mau dikemanakan kami?
Helai-helai yang menopang beton dan dilindas tsunami?
Pesta ini sia-sia.
Membuang-buang koktail dan anggur untuk yang teraniaya.
Membuat luka semakin perih.
Karena mereka tak pernah dikasih.
Presetan dengan garis maupun lubang.
Yang menentukan jalan dan bisa menjadi pedang.
Perang bersenjata mulut dan kabel listrik.
Menggelitik.
Mereka yang skeptik.
Tidak melihat kami yang adiktif.
Atas bentuk perubahan pasif.
Sekarang kursi gantinya nasi.
Kalau sudah makan kursi, bukannya kenyang.
Semua jadi senang.
Senang menghisap lintingan akar rumput.
Ditambah uban-uban dan kotoran sapi sejumput.
Tapi kalau sudah makan tidak bersih.
Semuanya masih mengumbar perih.
Sekarang obat perih itu hanyalah.
Air liur yang ditambah.
Gula dan garam agar menjadi obat diare.
Buat mereka yang menjilat-jilat aspal hingga sore.
Bahkan malam.
Bukan buat mereka yang berlantai pualam.
Lalu mana mereka bisa makan kursi?
Kalau nasi saja tidak bisa dibeli dan asi,
Pun dijual kepada bunda kandung lain.
Sampai janin terbawa angin.
Hanya untuk mendapat jatah melamin.
Berdiameter kecil berisi lilin.
Hingga sampai kapan kursi menjadi tren?
Mengalahkan popularitas semu artis berkawat gigi yang beken?
Tren cuma ada di salah satu telapak tangan.
Dan yang lain menampar-nampar angan.
Mengeluh bukan kunci.
Tapi keluh adalah benci.
Demokrasi itu fiksi.
Dan ini susunan diksi.
Mereka menjual diksi.
Menjadikannya film aksi.
Terus mau dikemanakan kami?
Helai-helai yang menopang beton dan dilindas tsunami?
Pesta ini sia-sia.
Membuang-buang koktail dan anggur untuk yang teraniaya.
Membuat luka semakin perih.
Karena mereka tak pernah dikasih.
Presetan dengan garis maupun lubang.
Yang menentukan jalan dan bisa menjadi pedang.
Perang bersenjata mulut dan kabel listrik.
Menggelitik.
Mereka yang skeptik.
Tidak melihat kami yang adiktif.
Atas bentuk perubahan pasif.
jam session VII : a deadly hair gel
ohh, the deadly hair gel.
another breeze of your smells irritates me.
another breeze of views blind me.
another breeze of thoughts tired me off.
ohh the deadly hair gel.
when another heir get laid on his lair
when another hair gets off on his lair
when another gear loose out of from his lair.
is this another great game or an unfair wrestling games?
ohh the deadly hair gel.
it's just a simple way to say
it's just a hardest way to do
it's just a smallest way to take
but it's a biggest things to hate
the deadly hair gel turn me to the uneasy jealousy.
is a perfectness of the diction makes you take an action?
is a loneliness of this section of the soul makes you under?
underestimate me?
i'm not cursing anyone
i'm not at the feel of anger of someone.
it is only the deadly hair gel.
i know i'm only a germs, a bacteria, a virus, a germs, a tissues, a cell, and a pandemic
EATING HORMONES.
another breeze of your smells irritates me.
another breeze of views blind me.
another breeze of thoughts tired me off.
ohh the deadly hair gel.
when another heir get laid on his lair
when another hair gets off on his lair
when another gear loose out of from his lair.
is this another great game or an unfair wrestling games?
ohh the deadly hair gel.
it's just a simple way to say
it's just a hardest way to do
it's just a smallest way to take
but it's a biggest things to hate
the deadly hair gel turn me to the uneasy jealousy.
is a perfectness of the diction makes you take an action?
is a loneliness of this section of the soul makes you under?
underestimate me?
i'm not cursing anyone
i'm not at the feel of anger of someone.
it is only the deadly hair gel.
i know i'm only a germs, a bacteria, a virus, a germs, a tissues, a cell, and a pandemic
EATING HORMONES.
jam session VI : bitter sweat of sweet.
Aku telah berdansa dalam api, menari dengan pisau
Sekarang api membakar kepala hingga guratan otakku mengering kering matang.
Siapa mau otakku?
Pisau telah kutelan dan sekarang peniti-peniti menjadi asam lambung untuk mencerna paku.
Aku muak terhadap apresiasi atas adiksi.
Karena memang hidup cuma sekali, maka tak perlu membuka lebih dari satu juga.
Suruh siapa kalau sekarang lebih mudah jatuh cinta?
Cinta terhadap kondensasi berkuantitas persen.
Aku tak mau mengemis sen demi sen karena aku ingin jalan yang lurus.
Ketika api dan pisau membuatku menggigil dan berkedut-kedut ketika malam.
Oh tuhan, kirimkan saja malaikatmu untuk mencumbuku.
Mencumbuku hingga habis nafas di paruku dan menyisakan batu bara cair yang siap dibakar api didalam.
Aku hanya ingin diam, tuhan.
Tapi tuhan tak bisa diam.
Aku hanya ingin sendiri, tapi tuhan tak mau sendiri.
Aku tahu tuhan marah padaku.
Tapi tuhan tak pernah menjelaskan definisi atasnya.
Aku mau tau tuhan.
Berikan aku air, berikan aku bantal.
Aku ingin padamkan api dan menyimpan pisau dalam bantal.
Hingga nanti tak perlu lagi menelan pisau dan bermandi api ketika ku takut.
Tapi menjadinya ketika ku berani.
Aku hanya ingin berhenti.
Tolong, aku penat.
Penat dan kumat hanyalah sebuah definisi tak berdefinitif terhadap suatu bentuk aktif adiktif.
Jadikan aku nabi dalamku dan engkau patronku.
Aku tak punya tujuan, sedangkan nabi membuat tujuan.
Hingga akhirnya api ini nanti padam, maka buatlah api itu membakar pisau juga.
A diksi.
Jadikanku fiksi dalam layar cembung kristal yang ditembak proton elektron dan menjadikannya satuan pelangi yang bergerak.
Hingga lebih kusuka mencumbu genangan darahku dari kerongkongan dan airmata aseton untuk mengobati luka hatiku.
Aku sakit, itu benar.
Aku sehat, itu baik.
Penat.
Senat.
Keparatlah kalian yang tak bisa kusalahkan karena aku sendiri memang kualat.
Terkutuklah orang tuaku dan tenggelamkan saja kapal-kapal itu atau bisa saja membakar mercusuar itu.
Tapi apa daya?
Aku membusuk.
Ini bukan lubang pubertas, ini jurang realitas.
Sekarang api membakar kepala hingga guratan otakku mengering kering matang.
Siapa mau otakku?
Pisau telah kutelan dan sekarang peniti-peniti menjadi asam lambung untuk mencerna paku.
Aku muak terhadap apresiasi atas adiksi.
Karena memang hidup cuma sekali, maka tak perlu membuka lebih dari satu juga.
Suruh siapa kalau sekarang lebih mudah jatuh cinta?
Cinta terhadap kondensasi berkuantitas persen.
Aku tak mau mengemis sen demi sen karena aku ingin jalan yang lurus.
Ketika api dan pisau membuatku menggigil dan berkedut-kedut ketika malam.
Oh tuhan, kirimkan saja malaikatmu untuk mencumbuku.
Mencumbuku hingga habis nafas di paruku dan menyisakan batu bara cair yang siap dibakar api didalam.
Aku hanya ingin diam, tuhan.
Tapi tuhan tak bisa diam.
Aku hanya ingin sendiri, tapi tuhan tak mau sendiri.
Aku tahu tuhan marah padaku.
Tapi tuhan tak pernah menjelaskan definisi atasnya.
Aku mau tau tuhan.
Berikan aku air, berikan aku bantal.
Aku ingin padamkan api dan menyimpan pisau dalam bantal.
Hingga nanti tak perlu lagi menelan pisau dan bermandi api ketika ku takut.
Tapi menjadinya ketika ku berani.
Aku hanya ingin berhenti.
Tolong, aku penat.
Penat dan kumat hanyalah sebuah definisi tak berdefinitif terhadap suatu bentuk aktif adiktif.
Jadikan aku nabi dalamku dan engkau patronku.
Aku tak punya tujuan, sedangkan nabi membuat tujuan.
Hingga akhirnya api ini nanti padam, maka buatlah api itu membakar pisau juga.
A diksi.
Jadikanku fiksi dalam layar cembung kristal yang ditembak proton elektron dan menjadikannya satuan pelangi yang bergerak.
Hingga lebih kusuka mencumbu genangan darahku dari kerongkongan dan airmata aseton untuk mengobati luka hatiku.
Aku sakit, itu benar.
Aku sehat, itu baik.
Penat.
Senat.
Keparatlah kalian yang tak bisa kusalahkan karena aku sendiri memang kualat.
Terkutuklah orang tuaku dan tenggelamkan saja kapal-kapal itu atau bisa saja membakar mercusuar itu.
Tapi apa daya?
Aku membusuk.
Ini bukan lubang pubertas, ini jurang realitas.
jam session V : when a weed seems far to bid
Siapa yang sudah capai tertawa?
Seakan beberapa batangan ganja berasa seperti tembakau atau karena kau memang mencium gas dari korek api?
Mirip, seperti bau kotoran yang ketika basah dilempar ke mukamu dan mengering seketika. Hingga kukumu kotor.
Hingga nasimu menjadi ladang populan bakteri anus temanmu.
Hingga kau harus memutuskan untuk menahan nafas atau menahan mabuk dari kotoran temanmu yang mengering.
Memabukkan.
Aku sudah capai tertawa.
Tuhan pun tidak ikut tertawa.
Aku ingin baik, Tuhan…
Namun Tuhan menjawab baikku dengan kejamnya, kejamnya baik bukanlah benar padaku dan buruk itu benar bagi-Nya, apa nya?
Dia adalah adanya,bukan Nya.
Aku memang tertawa, tapi itu doa baginya, baginya doa adalah umpatan, umpatan ketidaktahuan atas-Nya dan meledek sebelum berkenalan dengan-Nya.
Tuhan aku ingin tahu.
Aku ingin tahu ingin apa aku nanti.
Setelah capai tertawa.
Tuhan yang bakal mendoakanku balik, meledekku dengan benar, karena dia benar ada-Nya, sehingga adanya.
Adanya cawan itu hanyalah petunjuk bagiku?
Karena dia adalah buatan-Mu, oh tuhan betapa kau dengan penuh mood menciptakannya, dan bukan bagiku untuk-Nya.
Jika dia endemi, itulah kutukan-Mu padaku.
Aku sudah capai tertawa.
Akulah pangeran buruk rupa sebagai nabi-Mu dan karenamu aku hanya ragu untuk tinggal dalam kerajaan-Mu dan memangsamu dengan sebuah pisau bedah dan menggunakannya sebagai pengoles margarin di atas lipatan ususmu.
Akulah endemi bagiku dan kau kutukan bagiku.
Karena-Mu lah aku menjangkit tubuhku, dengan harapan kutukan hanya berpaling dariNya dan bukan dirinya.
Seakan beberapa batangan ganja berasa seperti tembakau atau karena kau memang mencium gas dari korek api?
Mirip, seperti bau kotoran yang ketika basah dilempar ke mukamu dan mengering seketika. Hingga kukumu kotor.
Hingga nasimu menjadi ladang populan bakteri anus temanmu.
Hingga kau harus memutuskan untuk menahan nafas atau menahan mabuk dari kotoran temanmu yang mengering.
Memabukkan.
Aku sudah capai tertawa.
Tuhan pun tidak ikut tertawa.
Aku ingin baik, Tuhan…
Namun Tuhan menjawab baikku dengan kejamnya, kejamnya baik bukanlah benar padaku dan buruk itu benar bagi-Nya, apa nya?
Dia adalah adanya,bukan Nya.
Aku memang tertawa, tapi itu doa baginya, baginya doa adalah umpatan, umpatan ketidaktahuan atas-Nya dan meledek sebelum berkenalan dengan-Nya.
Tuhan aku ingin tahu.
Aku ingin tahu ingin apa aku nanti.
Setelah capai tertawa.
Tuhan yang bakal mendoakanku balik, meledekku dengan benar, karena dia benar ada-Nya, sehingga adanya.
Adanya cawan itu hanyalah petunjuk bagiku?
Karena dia adalah buatan-Mu, oh tuhan betapa kau dengan penuh mood menciptakannya, dan bukan bagiku untuk-Nya.
Jika dia endemi, itulah kutukan-Mu padaku.
Aku sudah capai tertawa.
Akulah pangeran buruk rupa sebagai nabi-Mu dan karenamu aku hanya ragu untuk tinggal dalam kerajaan-Mu dan memangsamu dengan sebuah pisau bedah dan menggunakannya sebagai pengoles margarin di atas lipatan ususmu.
Akulah endemi bagiku dan kau kutukan bagiku.
Karena-Mu lah aku menjangkit tubuhku, dengan harapan kutukan hanya berpaling dariNya dan bukan dirinya.
jam session IV : ontologi agnosti I
Senyawa Satuan Kotoran Kuping
Aku benci mendengar kunci
Tak dirantai satu dengan yang lain, tai!
Siapa ketok diriku bengkok
Menekuk punggung patah kusen daun pintu, bisa ditunggu?
Siapa ayal sendiri adalah khayal
Menepi sampan sepi sendiri menghanyut diri ditemani nampan
Nampan-nampan kosong, tampan.
Kilah itu berkilah atas allah
Mengapa satupun tuhan kau anggap sebagai bualan?
Seakan baik adalah konsep dan benar itu eksekusi oleh asep
Seorang ahli wacana yang berbicara tanpa rencana
Menjungkalkan keragaman hanya dengan asas iman
Imanitas bukan imunitas
Terhadap penyakit kebenaran yang ternyata itu sakit
Sakit kuning, matamu bengkak sampai kening
Menghitam, makin hitam makin legam
Legam arang banggalah kau mengerang
Kepadanya seakan ia mendengar ajakan
Dirimu manusia lemah kolektif yang merasa benar atas rahasia
Universal hingga ayal
Diri hanya tertawa mendengar itu hanya senyawa
Kotoran kuping yang kau harap tuk menjawab keping
Persoalanmu, bahkan itu tak mampu
Memberi solusi apakah itu baik aku tak tahu apakah itu intuisi
Dirimu atau gilakah dirimu yang layu termakan hingga semu
Hingga akhirnya para pasukan pendengar senyawa di kuping mereka akan bertanya
Atau mungkin menjawab langsung, bahwa mereka secara langsung
Adalah benar dan lain itu mungkar?
Hingga makar dan alas tikar menjadi alasan untukmu menjadi kasar?
Memisahkan kepala dan badan ku hanya karena akan
Benar menjadi dua, dan bahkan aku menjadi
Orang yang paling baik yang bakal naik
Menuju kesadaran sempurna mengenai kotoran kuping seorang benar yang berbau tai
Urai ususku hingga kau terbuai
Merah darah yang telah terarah
Atas keburukan yang kau cap sebenarnya adalah anugerah yang kau tidak lakukan
Lakukan, maka kau lihat dan telan
Semua asumsi atas intuisi
Hanya berasal dari sebuah kotoran kuping banal
Tutup kuping mu dan temu keningmu bukan di alasmu maupun petamu.
Aku benci mendengar kunci
Tak dirantai satu dengan yang lain, tai!
Siapa ketok diriku bengkok
Menekuk punggung patah kusen daun pintu, bisa ditunggu?
Siapa ayal sendiri adalah khayal
Menepi sampan sepi sendiri menghanyut diri ditemani nampan
Nampan-nampan kosong, tampan.
Kilah itu berkilah atas allah
Mengapa satupun tuhan kau anggap sebagai bualan?
Seakan baik adalah konsep dan benar itu eksekusi oleh asep
Seorang ahli wacana yang berbicara tanpa rencana
Menjungkalkan keragaman hanya dengan asas iman
Imanitas bukan imunitas
Terhadap penyakit kebenaran yang ternyata itu sakit
Sakit kuning, matamu bengkak sampai kening
Menghitam, makin hitam makin legam
Legam arang banggalah kau mengerang
Kepadanya seakan ia mendengar ajakan
Dirimu manusia lemah kolektif yang merasa benar atas rahasia
Universal hingga ayal
Diri hanya tertawa mendengar itu hanya senyawa
Kotoran kuping yang kau harap tuk menjawab keping
Persoalanmu, bahkan itu tak mampu
Memberi solusi apakah itu baik aku tak tahu apakah itu intuisi
Dirimu atau gilakah dirimu yang layu termakan hingga semu
Hingga akhirnya para pasukan pendengar senyawa di kuping mereka akan bertanya
Atau mungkin menjawab langsung, bahwa mereka secara langsung
Adalah benar dan lain itu mungkar?
Hingga makar dan alas tikar menjadi alasan untukmu menjadi kasar?
Memisahkan kepala dan badan ku hanya karena akan
Benar menjadi dua, dan bahkan aku menjadi
Orang yang paling baik yang bakal naik
Menuju kesadaran sempurna mengenai kotoran kuping seorang benar yang berbau tai
Urai ususku hingga kau terbuai
Merah darah yang telah terarah
Atas keburukan yang kau cap sebenarnya adalah anugerah yang kau tidak lakukan
Lakukan, maka kau lihat dan telan
Semua asumsi atas intuisi
Hanya berasal dari sebuah kotoran kuping banal
Tutup kuping mu dan temu keningmu bukan di alasmu maupun petamu.
Subscribe to:
Comments (Atom)